Kamis, 16 Mei 2019

PADA BATU


Pada Batu
AS Rijal

Pada batu
Pada batu
Aku berkaca
Tentang cermin purba
Melihat sudut sejarah

Pada batu dan cermin tak mampu
Melihat luka sendiri pada dinding tebing
Ia harus Memanjati tebing terjal
Memutar pada cadas dan
Gemuruh api dendam, lalu
Untuk gapai langit langit mimpi tanpa
Sayap,
Pada batu dan cermin
Aku berkaca
Melihat tangan sendiri
Mendayu bersama
Merayu ubun, dengan genangan air rammang rammang, kutatap pada
Wajah air tawar melepas pasang
Air laut

Mata dan perahu katinting
Berkunang kunang di tanam batu
ikan air tawar berhias diri
Lalu melepas dubur
Agar ia tak asin
Dijadikannya umpan

Aroma muara
Membius dahaga purba
Kini piton piton jadi tombak
Juga tiang
Pada hati manusia
Membeku

Nafas waktu (1)


Nafas waktu (1)



Diksi waktu, sungguh bijak
Setia Berdetak mengikuti irama budaknya
Pada manusia baja
dengan berkapak, Tak ingin di bajak
juga sesekali seperti detak kaki kuda bertapak
berirama terdengar terhenti di lorong sunyi
jauh masuk di dalam kandang atau di hutan belantara
menghilang, dari ramai
hanya nyayian binatang melam menderu

malam melamun sunyi
seperti rakaat panjang
begitu hening dan khusyuk

kaukah filsuf  malang itu?
Melihat semut malam bersila di atas batu hitam
Lalu kau menghitung hitung irama kakinya
Semut tak perduli, asyik membangun koloni

Lelaki berjengot, berparas tak berjubah itu
Alangkah wahai alangkah banyak manusia berdoa untukmu
Kau ini siapa? Kau mampu menghitung hirup nafasmu dalam gelap
Lalu kau buat mesin waktu berdetak seperti irama detak jantungmu
Kini tersimpan rapi tak berbau
Tak berbangkai tapi terbingkai kayu
Putih, Terikat kacu
Purba dan milenia di masa lampau
Pula di masa masa akan datang, tak berlalu

Akhir 2005